Kamis, 30 Juni 2011

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Sejarah EKG

Seorang Augustus Waller yang pertama kali melakukan pendekatan sistemastis pada jantung dari sudut pandang kelistrikan. Augustus Waller adalah seorang physiologist yang bekerja pada St. Mary's Hospital di Paddington London. Dia menggunakan elektrometer kapiler Lippman yang dipasang ke sebuah proyektor. Jejak jantung diproyeksikan ke piringan foto yang dipasang sebuah kereta mainan. Sampai awal abad ke 20, penemuannya masih jarang dipakai.



http://1.bp.blogspot.com/-wMoYVzYTmP0/TbfYa18-yMI/AAAAAAAAAAc/YDZHWTCk8rc/s1600/waller.jpg


Gambar 1.

Elektrokardiogram (EKG) baru benar-benar digunakan setelah seorang dokter belanda kelahiran semarang, yang bernama dr. Willem Eitnhoven, menggunakan Galvanaometer senar sebagai pengganti elektrometer Kapiler Lippmann. Gebrakan tersebut membuat EKG versi baru ini lebih sensitif daripada sebelumnya yang digunakan Waller. Pada tahun 1924 Eitnhoven dianugerahi Nobel dalam bidang fisiologi dan kedokteran untuk penemuannya.



http://3.bp.blogspot.com/-5ccGkzmwPzM/TbfYZFJ5k7I/AAAAAAAAAAY/a5WYgYG1e2k/s1600/einthoven.jpg


Gambar.2. Willem Einthoven

Elektrokardiografi (EKG) adalah pemantulan aktivitas listrik dari serat-serat otot jantung secara goresan. Dalam perjalanan abad ini, perekaman EKG sebagai cara pemeriksaan tidak invasif, sudah tidak dapat lagi dihilangkan dari klinik. Sejak di introduksinya galvanometer berkawat yang diciptakan oleh EINTHOVEN dalam tahun 1903, galvanometer berkawat ini merupakan suatu pemecahan rekor perangkat sangat peka dapat merekam setiap perbedaan tegangan yang kecil sebesar milivolt. Perbedaan tegangan ini terjadi pada luapan dan imbunnan dari serat-serat otot jantung. Perbedaan tegangan ini dirambatkan ke permukaan tubuh dan diteruskan ke sandapan-sandapan dan kawat ke perangkat penguat EKG.

Aktivitas listrik mendahului penguncupan sel otot. Tidak ada perangkat pemeriksaan sederhana yang begitu banyak mengajar pada kita mengenai fungsi otot jantung selain daripada EKG. Dengan demikian masalah-masalah diagnostik penyakit jantung dapat dipecahkan dan pada gilirannya pengobatan akan lebih sempurna. Namun kita perlu diberi peringatan bahwa EKG itu walaupun memberikan banyak masukkan, tetapi hal ini tak berarti tanpa salah. Keluhan dan pemeriksaan klinik penderita tetap merupakan hal yang penting.

EKG seorang penderita dengan Angina Pectoris dan pengerasaan pembuluh darah koroner dapat memberikan rekaman yang sama sekali normal oleh karena itu EKG harus selalu dinilai dalam hubungannya dengan keluhan-keluhan dan keadaan klinis penderita. Pada waktu sekarang, EKG sebagai perangkat elektronis sederhana sudah digunakan secara luas pada praktek-praktek dokter keluarga, rumah-rumah perawatan, dalam perusahaan, pabrik-pabrik atau tempat-tempat pekerjaan lainnya. Dengan demikian pemeriksaan EKG dapat secara mudah dan langsung dilakukan pada penderita-penderita yang dicurigai menderita penyakit jantung dan pembuluh darah yang banyak ditemukan dan banyak menyebabkan kematian. Didalam bab ini akan dibicarakan beberapa aspek penggunaan EKG umum dalam bidang kardiovaskuler.

BAB II

DASAR TEORI

II.1. Prinsip Kerja EKG

Jantung merupakan sebuah organ unik yang mampu memproduksi muatan listrik. Hal ini dibuktikan oleh Von Kolliker (1855) melalui preparat yang dikenal sebagai rheoscopic frog, yaitu saraf dari otot gastroknemius kodok ditelentangkan pada permukaan jantung yang sedang berdenyut, maka otot tersebut ini akan ikut berkontraksi sesuai dengan irama denyut jantung.

Berhubungan tubuh merupakan sebuah konduktor yang baik, maka impuls yang dibentuk oleh jantung dapat menjalar ke seluruh tubuh. Sehingga potensial arus bioelektrik yang dipancarkan oleh jantung dapat di ukur dengan sebuah galvanometer melalui elektroda-elektroda yang diletakkan pada berbagai posisi dipermukaan tubuh. Grafik yang tercacat melalui rekaman ini disebut elektrokardiogram (EKG). Ilmu yang mempelajari EKG disebut elektrokardiografi.

Elektrokardiograph merupakam salah satu instrumen yang berpengaruh dalam perkembangan teknologi kesehatan adalah Elektrokardiograph atau biasa disebut EKG. Pada bebereapa negara EKG juga biasa disebut ECG (electrocardigraph). Jadi EKG dan ECG adalah alat yang sama, hanya berbeda bahasa. Pada post kali ini saya akan membahas tentang EKG, baik dari pengertian, kegunaan, sejarah dan cara penggunaanya.

Elektrokardiograph bekerja dengan prinsip mengukur perbedaan potensial listrik. Seperti yang sudah disebutkan di atas, tubuh manusia menghasilkan listrik walaupun dengan jumlah yang sangat kecil. Apabila ada listrik, maka pasti ada perbedaan potensial atau tegangan listrik. Tegangan listrik ini dapat menggamabarkan atau mengilustrasikan keadaan denyut jantung manusia.

Cara merekam denyut jantung menggunakan EKG tidaklah sembarang. Sensor atau dalam hal ini elektroda, harus diletakkan pada tempat-tempat tertentu. Biasanya ditempatkan pada lengan tangan dan kaki. Kenapa ditempatkan pada bagian-bagian tersebut? Sebab pada bagian-bagian tersebutlah pulsa tegangan menggambarkan kerja denyut jantung mendekati keadaan sebenarnya.





http://2.bp.blogspot.com/-QGgxHdu9M8A/TbfXK4xkX8I/AAAAAAAAAAU/VbBzzB6T1yo/s320/kursus-ekg-2009.jpg


Gambar 3. Normal EKG

Elektroda yang digunakan pada EKG biasanya dibuat dari bahan Ag atau AgCl. Bahan-bahan ini digunakan untuk mengurangi noise karena pergerakan. Selain elektroda, EKG juga membutuhkan tranducer. Tranducer ini digunakan untuk mengkonversi informasi yang didapatkan oleh elektroda menjadi sesuatu yang dapat kita baca pada kertas EKG.Tatapi pada zaman sekarang EKG menggunakan ADC, sehingga pulsa listrik analog yang ditangkap oleh elektroda akan dikonversi menjadi digital dan akan diolah di komputer.

II.2. Teknik monitoring EKG

Saat ini berbagaimacam teknik monitoring EKG yang sering digunakan yaitu :

1. Teknik monitoring standar ekstremitas (metoda Einthoven) atau standard limb leads

Dalam menggunakan teknik ini, dilakukan 3 tempat monitoring EKG yakni :

a. Lead I dibentuk dengan membuat lengan kiri (LA-left arm) elektroda positif dan lengan kanan (RA- right arm) elektroda negatif. Sudut orientasi 0º.

b. Lead II dibentuk dengan membuat kaki kiri (LL-left leg) elektroda positif dan lengan kanan (RA- right arm) elektroda negatif. Sudut orientasi 60º.

c. Lead III dibentuk dengan membuat kaki kiri (LL-left leg) elektroda positif dan lengan kiri (LA- left arm) elektroda negatif. Sudut orientasi 120º

2. Teknik monitoring tambahan atau augmented limb leads.

Dalam menggunakan teknik ini, dilakukan 3 tempat monitoring EKG yakni :

a. aVL dibentuk dengan membuat lengan kiri (LA-left arm) elektroda positif dan anggota tubuh lainnya (ekstremitas) elektroda negatif. Sudut orientasi -30º

b. aVR dibentuk dengan membuat lengan kanan (RA- right arm) elektroda positif dan anggota tubuh lainnya (ekstremitas) elektroda negatif. Sudut orientasi -150º

c. http://4.bp.blogspot.com/--sb49OHsDOA/TbfXG-d1PQI/AAAAAAAAAAQ/nODfrm4a9Eg/s320/ekg.jpgaVF dibentuk dengan membuat kaki kiri (LL-left leg) elektroda positif dan anggota tubuh lainnya (ekstremitas) elektroda negatif. Sudut orientasi +90º monitoring EKG prekordial/ dada atau standard chest leads monitoring EKG

Gambar 4. Electrocardiogram

II.3. Sandapan EKG

Sandapan EKG atau lead EKG dibagi menjadi :

II.3.1. Sandapan Ekstremitas Bipolar (Bipolar Limb Lead)

Orientasi polaritas dari sumbu-sumbu sandapan ekstremitas bipolar adalah sebagai berikut :

Sandapan I : berasal dari elektroda lengan kanan (right arm = RA,negative) ke elektroda lengan kiri (left arm = LA, positif)

Sandapan II : berasal dari elektroda lengan kanan ( RA, negative) ke elektroda tungkai kiri (left leg = LL,positif)

Sandapan III : berasal dari elektroda lengan kiri (LA, negative) ke elektroda tungkai kiri (LL,positif)

Dengan demikian terbentuk sebuah segitiga sama sisi (Triangle of Einthoven) dengan jantung terletak ditengah-tengah.

Ketiga sanadapan ekstremitas bipolar dari Einthoven ini disebut sebagai juga sebagai standard limb lead.




Gambar 5 : Triangle of Einthoven

I = aVL - aVR

II = aVF - aVR

III = aVF – aVL

II.4. Sandapan Prekordial ( Precordial Lead)

Enam tempat yang umum dipakai untuk ke-enam sandapan prekordial adalah :

V1 : pada sisi kanan sternum di sela iga ke empat

V2 : pada sisi kiri sternum di sela iga ke empat

V3 : antara V2 dan V4

V4 : pada garis midclavikular kiri disela iga iga kelima

V5 : pada garis aksilaris anterior kir setinggi V4

V6 : pada garis midaksilaris setinggi V4.

Gambar 6 : Posisi sandapan prekordial

II.4.Konfigurasi EKG

Terdapat tiga gelombang dan tiga interval yang memiliki arti klinis yang perlu diperhatikan pada setiap EKG. Ketiga gelombang tersebut ialah : gelombang P, kompleks QRS dan gelombang T. sedangkan ketiga interval tersebut ialah : interval PR, interval QRS dan interval QT.

Dalam mempelajari konfigurasi EKG (gelombang P, kompleks QRS dan gelombang T) di berbagai sandapan, dianjurkan agar tidak dihafal, tetapi dimengerti berdasarkan hukum Golberger. Jadi yang perlu diingat adalah arus depolarisasi jantung, posisi sumbu sandapan dan dimana letak elektroda positif.

Gambar 7 : a.

Gambar 7.

Sebaliknya pada sandapan aVR, karena elektroda positif diletakkan di kanan atassedangkan arah arus depolarisasi jantung berjalan menjauh elektroda positif, maka pada sandapan aVR, gelombang P, kompleks QRS maupun gelombang T selalu terekam dalam defleksi negative.

Sama halnya pada sandapan I atau II, apabila arus depolarisasi jantung lebih mengarah ke lengan kiri, atau lebih sejajar dengan sumbu sandapan I, dengan sendirinya bergerak tegak lurus terhadap sumbu snadapan III. Maka sandapan I akan terekam gelombang P, kompleks QRS dan gelombang T yang berdefleksi positif kuat, sedangkan pada sandapan III akan terekam gelombang yang bifasik.

a. Penggunaan Umum EKG

Pada umumnya pemeriksaan EKG berguna untuk mengetahui : aritmia, fungsi alat pacu jantung, gangguan konduksi interventrikuler, pembesaran ruangan-ruangan jantung, IMA, iskemik miokard, penyakit perikard, gangguan elektrolit, pengaruh obat-obatan seperti digitalis, kinidin, kinine, dan berbagai kelainan lain seperti penyakit jantung bawaan, korpulmonale, emboli paru, mixedema.

  • Gambaran Elektrokardiografi Normal

Kertas EKG mempunyai garis-garis baik vertikal maupun horizontal berjarak 1 mm. Garis yang lebih tebal mempunyai jarak 5 mm. Mengenai “waktu” diukur sepanjang garis horisontal 1 mm = 0,04 detik atau 40 milidetik, 5 mm = 0,2 detik. “Voltage” listrik diukur sepanjang garis vertical dan dinyatakan dalam milimeter (10 mm = imV). Untuk praktisnya kecepatan pencatatan adalah 25 mm/detik.

II.4.1.2. Kompleks Elektrokardiografi Normal.

Huruf besar QRS menunjukkan gelombang-gelombang yang relatif besar (5mm) ; huruf kecil (qrs) menunjukkan gelombang-gelombang kecil (dibawah 5 mm). Gelombang P (P wave) : defleksi yang dihasilkan oleh depolarisasi atrium. Gelombang Q (q) atau Q wave : defleksi negatif pertama yang dihasilkan oleh depolarisasi ventrikel dan mendahului defleksi positif pertama (R).

Gelombang R (r) atau R wave : defleksi positif pertama dari depolarisasi ventrikel.

Gelombang S (s) atau S wave : defleksi negatif pertama dari depolarisasi ventrikel setelah defleksi positif pertama R.

Gelombang T (T wave) defleksi yang dihasilkan sesudah gelombang QRS oleh repolarisasi ventrikel.

Gelombang U (U wave) : suatu defleksi (biasanya positif) terlihat setelah gelombang T dan mendahului gelombang P berikutnya. Biasanya terjadi repolarisasi lambat pada sistem konduksi inverventrikuler (Purkinje).

  • Nilai Interval Normal

Nilai R - R : jarak antara 2 gelombang R berturut-turut. Bila irama ventrikel teratur, interval antara 2 gelombang R berturut-turut dibagi dalam 60 detik akan memberikan kecepatan jantung permenit (heart rate). Bila irama ventrikel tidak terartur, jumlah gelombang R pada suatu periode waktu (misalnya 10 detik) harus dihitung dan hasilnya dinayatakan dalam jumlah permenit.

Contoh : bila 20 gelombang yang dihitung dalam suatu interval 10 detik, maka frekwensi jantung adalah 120 per menit.

Interval P-P : pada sinus ritme interval P-P akan sama dengan interval R-R.

Tetapi bila irama ventrikel tidak teratur atau bila kecepatan atrium dan venrikel berbeda tetapi teratur, maka interval P-P diukur dari titik yang sama pada 2 gelombang P berturut-turut dan frekwensi atrial per menit dihitung seperti halnya frekwensi ventrikel.

Interval P-R : Pengukuran interval ini untuk mengetahui waktu konduksi atrio ventrikel. Termasuk disini waktu yang diperlukan untuk depolarisasi atrium dan sebagian depolarisasi atrium, tambah perlambatan eksitasi daripada nodus atrio ventrikuler. Diukur mulai dari ermulaan gelombang P sampai permulaan kompleks QRS. Sebenarnya lebih tepat interval ini disebut P-Q. Nilai normalnya : 0,12 - 0,20 detik.

Interval QRS : Interval ini adalah pengukuran seluruh waktu depolarisasi ventrikel. Diukur dari permulaan gelombang Q (R bila tidak terlihat Q) sampai akhir gelombang S. Batas atas nilai normalnya adalah 0,1 detik. Kadang-kadang pada sandapan prekordial V2 atau V3, interval ini mungkin 0,11 detik.

Interval Q-T : Interval ini diukur dari permulaan gelombang Q sampai akhir gelombang T. Dengan ini diketahui lamanya sistole elektrik. Interval Q-T normal tidak melebihi 0,42 detik pada pria dan 0,43 detik pada wanita.

Interval Q-U : pengukuran ini mulai dari awal gelombang Q sampai akhir gelombang U. Tidak diketahui arti kliniknya.

  • Segmen Normal

Segmen P-R : adalah bagian dari akhir gelombang P sampai permulaan kompleks QRS. Segmen ini normal adalah isoelektris. RS-T junction (J) : adalah titik akhir dari kompleks QRS dan mulai

segmen RS-T. Segmen RS-T (segmen S-T), diukur mulai dari J sampai permulaan gelombang T. Segmen ini biasanya isoelektris tetapi dapat bervaraisi antara 0,5 sampai + 2 mm pada sandapam prekordial. Elevasi dan depresinya dibandingkan dengan bagian garis dasar (base line) antara akhir gelombang T dan permulaan gelombang P (segmen T-P).




Gambar III.1 : Diagram dari kompleks, interval dan segmen

elektrokardiografi.

b. Kelainan kompleks pada beberapa penyakit.

Pada dasarnya bagi yang berpengalaman, tidaklah sulit membedakan antara kompleks EKG normal dan yang ada kelainan. Tetapi kadang-kadang ditemukan adanya gambaran EKG yang tidak khas dan membingungkan kita. Oleh karena itu sebagai patokan, maka berikut ini disajikan kelainan kompleks P-QRS-T pada beberapa penyakit.

  • .Kelainan gelombang P.

Kelainan penampilan (amplitudo, lamanya, bentuknya) gelombang P pada irama dan kecepatan yang normal. Misalnya P mitrale yang ditandai dengan gelombang P yang tinggi lebar dan “not ched” pada sandapan I dan II : gelombang P lebar dan bifasik pada VI dan V2. Gambaran ini menunjukkan adanya hipertrofi atrium kiri terutama pada stenosis mitralis. Sedangkan P pulmonale ditandai dengan adanya gelombang P yang tinggi, runcing pada sandapan II dan III, dan mungkin disertai gelombang P tinggi dan bifasik pada sandapan VI dan V2. Ditemukan pada korpulmonale dan penyakit jantung kogenital.

Kelainan penampilan, irama dan kecepatan gelombang P yang dapat berupa kelainan tunggal gelombang P misalnya “atrial premature beat” yang bisa ditemukan pada penyakit jantung koroner (PJK), intoksikasi digitalis.

Selain itu dapat ditemukan kelainan pada semua gelombang P disertai kelainan bentuk dan iramanya misalnya fibrilasi atrium yang dapat disebabkan oleh penyakit jantung rematik (PJR), pada infark miokard.

Kelainan gelombang P lainnya berupa tidak adanya suatu gelombang P, kompleks QRS-T timbul lebih cepat dari pada biasanya.

Misalnya “ AV nodal premature beat” pada PJK, intoksikasi digitalis, dimana bentuk kompleks QRS normal, dan terdapat masa istirahat kompensatoir.

Kelainan lain berupa ekstrasistole ventrikel pada PJK, intoksikasi digitalis.

Seluruh gelombang P tidak nampak, tetapi bentuk dan lamanya kompleks QRS adalah normal. Misalnya irama nodal AV, takikardi nodal AV, atrial takikardi yang timbul akibat intoksikasi digitalis, infark miokard, penyakit jantung hipertensi (PJH). Gelombang P seluruhnya tidak tampak dengan kelainan bentuk dan lamanya kompleks QRS. Misalnya ventrikel takikardi, fibrilasi atrium yang dapat timbul pada PJR. Penyakit jantung hipertensi (PJH).

  • Kelainan interval P-R

§ Interval P-R panjang menunjukkan adanya keterlambatan atau blok

konduksi AV. Misalnya pada blok AV tingkat I dimana tiap gelombang P diikuti P-R > 0,22 detik yang bersifat tetap atau sementara, ditemukan pada miokarditis, intoksikasi digitalis, PJK, idiopatik. Pada AV blok tingkat II yaitu gelombang P dalam irama dan kecepatan normal, tetapi tidak diikuti kompleks QRS, dan seringkali disertai kelainan QRS, S - T dan T.

Interval P-R pada kompleks P-QRS-T mungkin normal atau memanjang, tetapi tetap jaraknya. Blok jantung A-V2 : 1 atau 3 : 1, berarti terdapat 2 P dan hanya 1 QRS atau 3P&1QRS. Tipe lain dari blok jantung ini ialah fenomena Wenkebach. Pada blok jantung tingkat III atau blok jantung komplit irama dan kecepatan gelombang P normal, irama kompleks QRS teratur tetapi lebih lambat (20-40 kali per menit) dari gelombang P. jadi terdapat disosiasi komplit antara atrium

dan ventrikel. Gambaran diatas ini dapat ditemukan pada PJK, intoksikasi digitalis, IMA.

§ Interval P-R memendek yaitu kurang dari 0,1 detik dengan atau tanpa kelainan bentuk QRS. Ditemukan pada PJK intoksikasi digitalis, sindroma WPW.

  • Kelainan gelombang Q.

Gelombang Q patologis yang lebar > 1 mm atau > 0,4 detik dan dalamnya >2 mm (lebih 1/3 dari amplitudo QRS pada sandapan yang sama) menunjukkan adanya miokard yang nekrosis. Adanya gelombang Q di sandapan III dan aVR merupakan gambaran yang normal.

  • Kelainan gelombang R dan gelombang S.

Dengan membandingkan gelombang R dan S disandapan I dan III yaitu gelombang S di I dan R di III menunjukkan adanya “right axis deviation”. Kelainan ini ditemukan pada hipertrofi ventrikel kanan, stenosis mitral, penyakit jantung bawaan, korpulmonale. Sedangkan gelombang R di I dan S di III menunjukkan adanya “ left axis deviati on”. Kelainan ini ditemukan pada hipertrofi ventrikel kiri (LVH). Biasanya dengan menjumlahkan voltase (kriteria voltasi) dari gelombang S di V1 dan R di V5 atau S V1 + R V6 > 35 mm atau gelombang R>27 mm di V5 atau V6 menunjukkan adanya LVH.

  • Kelainan kompleks QRS

ü Pada blok cabang berkas His dapat ditemukan adanya kompleks QRS lebar dan atau “notched” dengan gelombang P dan interval P-R normal. Ditemukan pada PJK, PJR (Penyakit Jantung Rematik).

ü Kompleks QRS berfrekwensi lambat dengan atau tanpa kelainan bentuk tetapi iramanya teratur yaitu pada sinus bradikardi, blok jantung 2:1, 3:1, blok komplit terutama pada PJK, PJR, penyakit jantung bawaan.

ü Kompleks QRS berfrekwensi cepat dengan atau tanpa kelainan bentuk, yaitu pada sinus takikardi, atrial takikardi, nodal takikardi, fibrilasi atrium, takikardi ventrikel. Ditemukan pada PJK (Penyakit Jantung Koroner), PJH (Penyakit Jantung Hipertensi), PJR (Penyakit Jantung Rematik), infark miokard, intoksikasi digitalis.

ü Irama QRS tidak tetap.

Kadang-kadang kompleks QRS timbul lebih cepat dari biasa, misalnya “ AV nodal premature beat”, “ventricular premature beat”. Ditemukan pada PJK dan intoksikasi digitalis.

Irama kompleks QRS sama sekali tidak teratur yaitu pada fibrilasi atrium dimana sering ditemukan pada PJH, PJR, infark miokard dan intoksikasi digitalis.

  • Kelainan segmen S-T.

Suatu kelainan berupa elevasi atau depresi segmen S-T yang ragu-ragu, sebaiknya dianggap normal sampai terbukti benar-benar ada kelainan pada suatu seri perekaman. Bukanlah suatu kelainan, apabila elevasi segmen S-T tidak melebihi 1 mm atau depresi tidak melebihi 0,5 mm, paling kurang pada sandapan standar.

Secara klinik elevasi atau depresi segmen S-T pada 3 sandapan standar, biasanya disertai deviasi yang sama pada sandapan yang sesuai, menunjukkan adanya insufisiensi koroner. Adanya elevasi segmen S-T merupakan petunjuk adanya infark miokard akut atau perikarditis. Elevasi segmen S-T pada sandapan prekordial menunjukkan adanya infark dinding anterior, sedangkan infark dinding inferior dapat diketahui dengan adanya elevasi segmen S-T pada sandapan II, III, dan aVF. Untuk perikarditis biasanya tidak dapat dipastikan tempatnya dan akan tampak elevasi di hampir semua sandapan. Elevasi segmen S-T pada V4R ditemukan pada infark ventrikel kanan Kelainan gelombang T.

Adanya kelainan gelombang T menunjukkan adanya kelainan pada ventrikel. Untuk itu dikemukakan beberapa patokan yaitu :

o Arahnya berlawanan dengan defleksi utama QRS pada setiap sandapan.

o Amplitudo gelombang T > 1 mm pada sandapan I atau II dengan gelombang R menyolok.

o Gelombang T terbalik dimana gelombang R menyolok.

o Lebih tinggi daripada perekaman sebelumnya atau lebih tinggi 8 mm pada sandapan I,II, III.

Oleh karena begitu banyak penyebab kelainan gelombang T, maka dalam menginterpretasi kelainan ini sebaiknya berhati-hati dan mempertimbangkan seluruh gambaran klinik. Suatu diagnosis khusus tidak dapat dibuat atas dasar perubahan perubahan yang tidak khas. Adanya gelombang T terbalik, simetris, runcing, disertai segmen S-T konveks keatas, menandakan adanya iskemi miokard. Kadang-kadang gelombang T sangat tinggi pada insufisiensi koroner. Pada keadaan dimana defleksi QRS positif pada sandapan I, sedangkan gelombang T pada sandapan I terbalik atau lebih rendah dari gelombang T di sandapan III menunjukkan adanya insufisiensi koroner. Gelombang T yang tinggi dan tajam pada semua sandapan kecuali aVR dan aVL menunjukkan adanya hiperkalemi.

Gelombang T yang tinggi dan simentris dengan depresi segmen S-T menunjukkan adanya infark dinding posterior 1.2.8. Kelainan gelombang U. Adanya gelombang U defleksi keatas lebih tinggi dari gelombang T pada sandapan yang sama terutama V1-V4 menunjukkan adanya hipokalemi.

II.4. Prinsip Membaca EKG

Untuk membaca EKG secara mudah dan tepat, sebaiknya setiap EKG dibaca mengikuti urutan petunjuk di bawah ini

1. Irama

Pertama-tama tentukan irama sinus atau bukan. Apabila setiap kompleks QRS didahului oleh sebuah gelombang P berarti irama sinus, kalau tidak, maka berarti bukan irama sinus. Bukan irama sinus dapat berupa suatu aritmia yang mungkin fibrilasi, blok AV derajat dua atau tiga, irama jungsional, takikardia ventrikular, dan lain lain.

2. Laju QRS (QRA Rate)

Pada irama sinus, laju QRS normal berkisar antara 60 - 100 kali/min, kurang dari 60 kali disebut bradikardia sinus, lebih dari 100 kali disebut takikardia sinus. Laju QRS lebih dari 150 kali/min biasanya disebabkan oleh takikardia supraventrikular (kompleks QRS sempit), atau takikardia ventricular (kompleks QRS lebar). Pada blok AV derajat tiga, selain laju QRS selalu harus dicantumkan juga laju gelombang P (atrial rate). EKG normal selalu regular. Irama yang tidak regular ditemukan pada fibrilasi atrium, atau pada keadaan mana banyak ditemukan ekstrasistol (atrium maupun ventrikel), juga pada sick sinus syndrome.

3. Aksis

Aksis normal selalu terdapat antara -30° sampai +110°. Lebih dari -30° disebut deviasi aksis kiri, lebih dari +110° disebut deviasi aksis kanan, dan bila lebih dari +180° disebut aksis superior. Kadang kadang aksis tidak dapat ditentukan, maka ditulis undeterminable, misalnya pada EKG dimana defleksi positif dan negatif pada kompleks QRS di semua sandapan sama besarnya.

4. Interval -PR

Interval PR normal adalah kurang dari 0,2 detik. Lebih dari 0.2 detik disebut blok AV derajat satu. Kurang dari 0,1 detik disertai adanya gelombang delta menunjukkan Wolff-Parkinson- White syndrome.

5. Morfologi

5.1. Gelombang P

Perhatikan apakah kontur gelombang P normal atau tidak. Apakah ada P pulmonal atau P-mitral.

5.2. Kompleks QRS

Adanya gelombang Q patologis menandakan old myocardial infarction (tentukan bagian jantung mana yang mengalami infark melalui petunjuk sandapan yang terlibat).

Bagaimana amplitudo gelombang R dan S di sandapan prekordial. Gelombang R yang tinggi di sandapan V1 dan V2 menunjukkan hipertrofi ventrikel kanan (atau infark dinding posterior). Gelombang R yang tinggi di sandapan V5 dan V6 dengan gelombang S yang dalam di sandapan V1 dan V2 menunjukkan hipertofi ventrikel kiri.

Interval QRS yang lebih dari 0,1 detik harus dicari apakah ada right bundle branch block, left bundle branch block atau ekstrasistol ventrikel.

5.3. segmen ST

Elevasi segmen ST menandakan infark miokard akut (tentukan bagian mana dari jantung yang mengalami infark). Depresi segmen ST menandakan iskemia.

5.4. Gelombang T

Gelombang T yang datar (flat 7) menandakan iskemia. Gelombang T terbalik (T-inverted) menandakan iskemia atau mungkin suatu aneurisma. Gelombang T yang runcing menandakan hiperkalemia.

5.5. Gelombang U

Gelombang U yang sangat tinggi (> gel. T) menunjukkan hipokalemi. Gelombang U yang terbalik menunjukkan iskemia miokard yang berat.

BAB III

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TENTANG ELEKTROKARDIOGRAM

III.1. Perlengkapan Alat

* Mesin EKG, yang dilengkapi :

* Kabel untuk sumber listrik

* Kabel untuk bumi (ground)

* Kabel elektroda ekstremitas dan dada

* Plat elektroda ekstermitas beserta karet pengikat

* Balon penghisap elektroda dada

* Jelly

* Kertas tissue

* Kapas alcohol

* Kertas EKG

* spidol

III.2. Persiapan Pasien

  1. Penjelasan (informed consent), diantaranya tujuan pemeriksaan saat perekaman.
  2. Dokter mempersilahkan pasien berbaring dengan tenang di tempat tidur dengan bertelanjang dada
  3. Dokter meminta pasien untuk melepaskan benda-benda logam yang dapat menyebabkan gangguan hantaran listrik misalnya : handphone, tali pinggang, jam tangan, uang logam dan lain-lain
  4. Bersihkanlah kulit dengan kapas alkohol dan oleskan keratin cream (jelly) di tempat-tempat peletakan elektroda.
  5. Pasanglah elektroda ditempat yang telah dibersihkan.

III.3. Cara Kerja

1. Pasang semua komponen/ kabel-kabel pada mesin EKG

2. Nyalakan mesin EKG

3. Baringkan pasien dengan tenang di tempat tidur yang luas. Tangan dan kaki tidak saling bersentuhan

4. Bersihkan dada, kedua pergelangan kaki dan tangan dengan kapas alcohol (kalau perlu dada dan pergelangan kaki di cukur)

5. Keempat elektroda ektremitas di beri jelly

6. Pasang keempat elektroda ekstremitas tersebut pada kedua pergelangan tangan dan kaki. Untuk tangan kanan biasanya berwarna merah, tangan kanan kiri berwarna kuning, kaki kiri berwarna hijau dan kaki kanan berwarna hitam.

7. Dada diberi jelly sesuai dengan lokasi elektroda V1 s/dV6

* Vi di garis parasternal kanan sejajar dengan ICS 4 $ berwarna merah

* V2 di garis parasternal kiri sejajar dengan ICS 4 berwarna kuning

* V3 diantara V2 dan V4, berwarba hijau

* V4 di garis midclavicula kiri sejajar ICS 5, berwarna coklat

* V5 di garis aksila anterior kiri sejajr ICS 5, berwarna hitam

* V6 di garis midaksila kiri sejajar ICS 5, berwarna ungu.

1. Pasang elektroda dada dengan menekan karet penghisap

2. Buat kalibrasi

3. Rekam setiap lead 3-4 beat (gelombang), kalau perlu lead II panjang (minimal 6 beat)

4. Kalau perlu buat kalibrasi setelah perekaman

5. Semua elektroda dilepas

6. Jelly dibersihkan dari tubuh pasien

7. Beritahu pasien bahwa perekaman sudah selesai

8. Matikan mesin EKG

9. Tulis pada hasil perekaman : nama, umur, jenis kelamin, jam, tanggal, bulan dan tahun pembuatan nama masing-masing lead serta nama orang yang merekam.

10. Bersihkan dan rapikan alat.

III.4. Petunjuk Pembacaan EKG

Pembacaan EKG
Perhitungan frekwensi dan aksis jantung
Hitung banyaknya kotak besar interval R-R
– Membagi angka 300 dengan banyaknya kotak besar R-R
– Atau membagi 1500 dengan banyaknya kotak kecil interval R-R

Dasar;
1 kotak kecil sama dengan 0,04 detik
1 kotak besar terdiri dari 5 kotak kecil sama dengan 0,2 detik

Penghitungan frekwensi
• Jika satu interval R-R ada 1 kotak besar berarti dalam 0,2 detik ada 1 denyut jantung
• Dalam satu detik berarti ada 5 denyutan jantung
• Dalam satu menit berarti ada 5 x 60 detik = 300 denyut nadi
• Jika digunakan kotak kecil dalam interval R-R maka ada 5 kotak kecil dalam satu interval R-R

Perhitungan frekwensi
• Berarti dalam 0,04 detik terjadi 1/5 denyutan
• Satu menit ; 1500 x 0,04 detik = 60 detik sehingga denyutannya dalam semenit sama dengan 1500 x 1/5 sama = 300 denyutan
• Jadi ada aturan 300 dan 1500
• Jika frekwensi lebih dari 100 disebut takhikardi dan jika kurang dari 60 disebut bradikardi

Penentuan irama sinus
• Irama sinus adalah irama jantung normal dengan gelombang P selalu dikuti oleh kompleks QRS dan T
• Irama jantung yang dibentuk oleh NSA sebagai pacemaker
• Frekwensi normalnya 60-100 x/menit
• Sinus tackikardi : f.gelombang sinus >100 x/menit
• Sinus bradikardi : f. gelombang sinus < 60 x menit
• Aritmia sinus : f. gelombang sinus dengan variasi interval R-R lebih dari 10 %

Penentuan aksis
• Aksis jantung ditentukan oleh resultan/mean dari vektor listrik jantung
• Aksis normal jantung berada dalam kisaran –30 sampai 90 derajat (ada pendapat 0-90 derajat)
• Untuk menentukan aksis jantung perlu melihat jantung pada sadapan bidang frontal dari sisi inferior (II,III,aVF) dan lateral kiri (I,aVL,V5,V6) dan bidang horisontal untuk melihat bidang anterior (V1,V2,V3,V4)
• Kadang perlu juga melihat sadapan aVR untuk melihat arah vektor ke kanan atas dengan vektor berlawanan dengan jantung normal

Penentuan aksis jantung
• Daerah aksis jantung terletak pada lead I dan lead aVF sehingga arsiran kedua lead pada arah vektor positif pasti menunjukan aksis jantung yang normal
• Vektor jantung yang dipakai adalah vektor komplek QRS
• Selanjutnya dicari komplek QRS yang bifasik mendekati seimbang antara defleksi positif dan negatif. Vektor ini merupakan vektor tegak lurus dengan lead dimana komplek QRS bifasik tersebut berada
• Aksis jantung diketahui dengan memproyeksikannya dalam lingkaran bidang frontal (lingkaran 4 kuadran)

Rekaman EKG Normal
• Gelombang P diikuti oleh kompleks QRS
• Frekwensi normal
• Gelombang P normal untuk semua lead
• Gelombang P tingginya < 2,5 mm di lead II
• Gelombang P lebarnya < 0,11 s di lead II
• Axis komplek QRS normal
• Interval PR normal ; durasi 0,12-0,20 s (pendek pada sindrom WPW, LGL, DMP dan panjang pada blok pada derajat satu)
• Komplek QRS normal ; durasi < 0,12 (durasi lama pada RBBB, LBBB, hiperkalemia)

Rekaman abnormal EKG
• Tidak ditemukan gelombang Q patologis
• Tidak ditemukan hipertropi ventrikel
• Interval QT normal ; 0,42 s (membagi interval QT dengan jml kotak interval RR)
• Penyebab interval QT panjang ; infark miokard, miokarditis, hipokalsemia, hipotiroidisme dll)
• Segmen ST ; tidak ada elevasi atau depressi (elevasi pada AMI, LBBB, perikarditis akut, variasi normal sedangkan elevasi pada iskemik miokard, hipertropi ventrikel, emboli pulmonal AMI posterior)
• Gelombang T normal

III.5. Hasil EKG

BAB IV. Kesimpulan

Pemeriksaan EKG memegang peranan yang sangat penting dalam membantu menegakkan diagnosis penyakit jantung. EKG disamping mampu mendeteksi kelainan jantung secara pasti, juga keadaan (kelainan) diluar jantung, mis. Adanya gangguan elektrolit terutama kalium dan kalsium. Disamping kemampuannyadalam mendeteksi secara pasti dari kelainan jantung tetapi EKG harus diakui mempunyai banyak kelemahan juga. EKG tidak dapat mendeteksi keparahan dari penyakit jantung secara menyeluruh, misalnya tingkat kerusakan otot

jantung dari serangan IMA. EKG juga tidak dapat mendeteksi gangguan hemodinamik

akibat suatu penyakit jantung. Dalam menegakkan diagnosis penyakit jantung kita tidak dapat hanya menggantungkan pemeriksaan EKG saja

Referensi

Karim,Sjukri,dr.dkk.1996.EKG dan Penanggulan Beberapa Penyakit Jantung Untuk Dokter Umum.FKUI.Jakarta.

IMM FK UMSU